CALIFORNIA - Adobe Systems Inc. akan berhenti mengembangkan software Flash mobile di perangkat genggam. Keputusan ini adalah sebuah kemenangan bagi Apple, karena sebelumnya telah melarang penggunaan Flash dalam iPhone dan iPad.
"Saya tidak menganggap kami kalah dari Apple. Saya cuma bilang, kami mendengarkan para pelanggan," kata Mark Garrett, kepala keuangan Adobe, seperti diwartakan NDTV, Kamis (10/11/2011).
Pupularitas perangkat genggam Apple dan oposisinya yang kukuh terhadap Flash telah menyodorkan pada publik kenyataan tentang bagaimana tampilan web dan applikasi bekerja. Pada April 2010, Steve Jobs menulis kritik panjang terhadap Flash yang menurutnya memiliki banyak kekurangan, menguras baterai, dan terlalu fokus pada PC sehingga tidak cocok bekerja di iPhone dan iPad.
"Flash diciptakan di era PC. Flash adalah sebuah kesuksesan bisnis Adobe dan kami paham mengapa mereka ingin mendorongnya melebihi batas PC. Tapi era mobile bicara tentang perangkat bertenaga rendah, tampilan sentuh, dan standar web terbuka, semuanya adalah wilayah yang menjadi kelemahan Flash," tulis Jobs dalam esainya.
Ada kemungkinan kini Adobe akan meningkatkan investasinya terhadap HTML5, versi terbaru pemrograman web yang sedang dibangun.
"HTML5 bersifat universal dan cocok dengan banyak perangkat mobile," kata Danny Winokur, wakil presiden Adobe, melalui blognya.
"HTML5 ini adalah solusi terbaik untuk menciptakan dan mengembangkan konten dalam browser di seluruh platform mobile," tambahnya.
Sumber : okezone.com
Feel Free Doing Little Look and See !!
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 November 2011
Saingan Muda Facebook
Baru-baru ini ( Akhir Juni 2011 ), Google telah meluncurkan situs sosialnya yang bernama Google+, walau baru diluncurkan, Google+ telah dibanjiri peminat. Sama seperti Facebook, Google+ juga memiliki fitur-fitur yang dapat digunakan oleh anggotanya untuk "bersosialisasi" dengan orang lain. Di sini, ada fitur Lingkaran yang memuat Teman, Keluarga, Kenalan, Mengikuti, atau Bisa juga kita tambahkan kategori-kategori baru dan masih banyak lagi. Ditambah lai, tampaknya pembuatan Google+ juga didukung oleh Mark Zuckerberg karena buktinya ada profil Mark di Google+. Tetapi, masih belum diketahui itu benar-benar Mark atau bukan karena mungkin saja itu orang yang iseng-iseng menyamar. Selebihnya, anda dapat mencoba Google+ untuk tahu lebih banyak lagi.
Prosedur masuknya mudah, anda tinggal membuat akun google dan kunjungi plus.google.com, lalu login dengan e-mail dan password akun google tersebut.
Dan pertanyaan yang muncul sekarang adalah...
Akankah Google+ Menyaingi Facebook ??
Prosedur masuknya mudah, anda tinggal membuat akun google dan kunjungi plus.google.com, lalu login dengan e-mail dan password akun google tersebut.Dan pertanyaan yang muncul sekarang adalah...
Akankah Google+ Menyaingi Facebook ??
Senin, 07 November 2011
Gempa 5,6 SR Guncang Oklahoma
SPARKS – Serangkaian gempa bumi mengguncang Negara Bagian Oklahoma, Amerika Serikat (AS), akhir pekan lalu. Bagi sekitar 3,7 juta penduduk yang lebih akrab dengan tornado tersebut, dua guncangan utama pada Sabtu waktu setempat (5/11) cukup menimbulkan trauma. Kendati demikian, gempa tak sampai menimbulkan korban jiwa.
Gempa pertama dengan kekuatan 4,7 Skala Richter (SR) mengguncang negara bagian di wilayah selatan AS itu pada Sabtu pagi. Konon, getarannya terasa sampai ke Negara Bagian Texas dan Missouri. Malamnya, gempa kembali mengguncang di negara bagian yang sama dengan kekuatan lebih besar. Yakni 5,6 SR. Kali ini, pusat gempa berada di sekitar Kota Sparks yang penduduknya paling padat.
“Getaran gempa yang kedua terasa dampai ke Negara Bagian Kansas, Missouri, Arkansas, wilayah utara Texas dan sejumlah lokasi di Illinois dan Wisconsin,” terang Jessica Turner, pakar geofisika pada Lembaga Survei Geologi AS (USGS) kemarin (7/11). Pasca gempa pertama dan kedua itu, sejumlah getaran berskala lebih kecil yang lazim disebut gempa susulan juga mengguncang Oklahoma dan sekitarnya.
Hingga kemarin, tak ada laporan korban jiwa baik dari Oklahoma maupun dari negara bagian lain yang juga merasakan gempa. Namun, kerugian fisik akibat gempa yang jarang mampir ke Oklahoma tersebut cukup parah. Sebagian besar gedung retak dan beberapa bangunan bertingkat ambruk. Beberapa akses jalan putus karena retaknya aspal jalan atau tertimpa pohon yang roboh.
Sabtu, 05 November 2011
Kronologi Keributan "Komodo"
![]() |
| Komodo di Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. |
Komodo termasuk hewan langka sangat dilindungi. Reptil ini satu-satunya hewan yang tersisa dari masa dinosaurus. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), komodo diperkirakan ada sejak 4 juta tahun lalu.
Keunikan inilah yang membuat banyak pihak tertarik memanfaatkan komodo sebagai obyek berbagai kepentingan. Lembaga New 7 Wonders Foundation (N7W) dari Swiss, misalnya, mengincar Taman Nasional Komodo (TNK) bersama 439 nominasi (obyek warisan alam) lainnya dari 220 negara untuk kontes komersial Tujuh Keajaiban Alam Dunia.
Yayasan yang didirikan Heidi Webber ini membuka kontes Tujuh Keajaiban Alam Dunia pada tahun 2007. Sebelumnya, yayasan ini juga mengadakan kontes Tujuh Keajaiban Alam Buatan Manusia.
Pada kontes sebelumnya, Borobudur dan Prambanan yang dicalonkan N7W tak bisa resmi ikut pemilihan karena Pemerintah Indonesia tak mau mendukung resmi (official supporting committee/OSC). Saat itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) menuai kecaman dari beberapa pihak karena dianggap gagal menjaga Borobudur dan Prambanan.
Kontes Keajaiban Dunia, baik alam maupun buatan manusia, ini voting-nya melalui internet. Adapun Keajaiban Alam, selain TNK, nominasi lain dari Indonesia adalah Danau Toba dan Anak Gunung Krakatau.
Oleh karena tak ingin dikecam lagi, tahun 2008 Kembudpar berinisiatif menjadi OSC dari ketiga nominasi yang diajukan untuk kontes Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata saat itu, Sapta Nirwandar, resmi mendaftarkan TNK, Danau Toba, dan Gunung Anak Krakatau dalam ajang kontes dengan membayar ongkos pendaftaran masing-masing 199 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 juta.
Resmi didaftarkan, ketiga obyek tersebut mengikuti seleksi masuk untuk jadi 28 finalis. TNK lolos 28 besar, sedangkan Danau Toba dan Anak Gunung Krakatau gagal.
Tuan rumah
Proses selanjutnya, Indonesia ditawari menjadi tuan rumah penyelenggaraan deklarasi Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Kembudpar saat itu menyatakan niat jadi tuan rumah deklarasi.
Proses surat-menyurat dengan N7W pun aktif dilakukan. Berdasarkan informasi dari N7W, butuh dana besar untuk menjadi tuan rumah. Hitungan mereka, Indonesia harus mengeluarkan biaya penyelenggaraan sekitar 35 juta dollar AS atau Rp 383 miliar.
Mekanisme pembiayaan bukan dibebankan kepada negara, melainkan dicari melalui sponsor, mirip pemilihan Miss Universe atau American Idol. Namun, menurut Sapta, tak ada sponsor Indonesia yang sanggup membiayai acara deklarasi. Oleh karena tak mungkin mengambil dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Indonesia mengurungkan niat menjadi tuan rumah.
Inilah pemicu konflik dengan N7W. Melalui sarana telekonferensi yang diadakan Jusuf Kalla, Jumat (4/11), di Kantor Pusat Palang Merah Indonesia di Jakarta, Jean-Paul de la Fuente, Direktur N7W, mengatakan, Pemerintah Indonesia tak bisa dipercaya. ”Jika seseorang menyatakan sanggup, omongan mereka yang kami pegang,” kata dia.
Dianggap ingkar janji, N7W awalnya hendak mencoret komodo sebagai finalis Tujuh Keajaiban Dunia. Namun, keputusan akhir N7W mencoret Kembudpar sebagai OSC. Komodo bisa terus mengikuti kontes asalkan ada pendukung lainnya yang menjadi OSC.
Merasa diancam N7W, Kembudpar resmi mundur dari ajang kontes Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Sebelumnya, pemerintah dibantu Kedubes RI di Swiss dan sejumlah wartawan mendatangi kantor N7W. Hasilnya, alamat N7W tak jelas, kode pos antara kop surat dan lokasi kantor berbeda, dan banyak kejanggalan lain. ”Kami berkesimpulan lembaga ini tak kredibel,” kata Jero Wacik, yang waktu itu Menbudpar.
Setelah Kembudpar tak lagi jadi OSC, aktivis lingkungan Emmy Hafild bersama sejumlah rekannya dalam Pendukung Pemenangan Komodo (P2K) menyatakan sanggup menjadi OSC. P2K lalu mengupayakan agar voting tak hanya lewat internet, tetapi juga lewat pesan singkat (SMS) agar lebih banyak diakses masyarakat Indonesia. Mereka juga menggandeng Jusuf Kalla, Ketua Umum PMI, sebagai Duta Pemenangan Komodo.
Pada awal kampanye P2K, voting melalui SMS ini dikenai tarif Rp 1.000 per SMS. Namun, karena sulit menarik dukungan, melalui lobi-lobi Jusuf Kalla, tarif SMS turun jadi Rp 1 per SMS. ”Uang itu akan kami kembalikan kepada operator sebagai tanda terima kasih masyarakat kepada operator,” kata Kalla.
Jean mengatakan, saat voting ditutup tanggal 11 November 2011, mereka akan mengumumkan hasil sementara voting.
Bagi Jusuf Kalla, yang penting komodo terkenal dulu ke seluruh dunia sehingga wisatawan asing berdatangan ke Indonesia. Bagaimana jika akhirnya justru mengganggu konservasi komodo? ”Komodo dijadikan wisata eksklusif,” kata Kalla.
Wisatawan asing dikenai tarif mahal dan jumlahnya dibatasi sesuai aturan konservasi. Saat mengantre inilah, wisatawan asing mengunjungi obyek-obyek wisata lain di Tanah Air.
Sayang, gagasan pengembangan pariwisata ini tak dipahami. Yang muncul polemik keabsahan N7W, aliran potongan pulsa SMS, dan sebagainya.
Apabila kesejahteraan manusia muaranya, hendaknya semua upaya dilandasi kejujuran dan ketulusan. Sumber : Kompas.com
China Hacked American Satellite
The US-China Economic and Security Review Commission claimed that the Chinese gained control of two American satellites. However, it wasn’t even this year. Media reported that nobody revealed any information about the hack at the time, which was between 2007 and 2008. Today, the data is about to be made public in the report published by US-China Economic and Security Review Commission.
It appeared that the 2 American satellites, namely Terra AM-1 and Landsat, were interfered with 4 times. Meanwhile, the intruders had control of the satellites for two to twelve minutes each time. The report confirmed that the control the intruders had over the satellites allowed them to damage or destroy the machines, as well as to block or falsify information they transmitted. Both of the satellites were only used for observing the climate and terrain of the planet, and there is no evidence that the intruders have ever misused their control.
Nevertheless, the hack caused fears in the American military establishment. Success of the Chinese with those two satellites meant that they could, in theory, take over control of satellites having more sensitive functions like those used by the American military and different intelligence agencies for reconnaissance and communication.
The report of the organization never said clearly whether the intruders behind the hacks were state-sponsored or not. Of course, the fact that the information has been made public by the American-China Economic and Security Review Commission, coupled with the fact that the targets appear consistent with Chinese military plans in case of open war, looks like a little hint. The Eastern military strategy centers on disabling the enemy’s space systems along with the ground infrastructure through which the country is controlled as part of any assault.
According to further information, both Terra AM-1 and Landsat were controlled from the Svalbard Satellite Station located far in Norway. The station in question is known for frequent use of the Internet for transferring and gaining access to the files. The speculations are that the hackers could get into the Svalbard Satellite station’s system through its online connection. Thus far, no denials from China have hit the web.
It appeared that the 2 American satellites, namely Terra AM-1 and Landsat, were interfered with 4 times. Meanwhile, the intruders had control of the satellites for two to twelve minutes each time. The report confirmed that the control the intruders had over the satellites allowed them to damage or destroy the machines, as well as to block or falsify information they transmitted. Both of the satellites were only used for observing the climate and terrain of the planet, and there is no evidence that the intruders have ever misused their control.
Nevertheless, the hack caused fears in the American military establishment. Success of the Chinese with those two satellites meant that they could, in theory, take over control of satellites having more sensitive functions like those used by the American military and different intelligence agencies for reconnaissance and communication.
The report of the organization never said clearly whether the intruders behind the hacks were state-sponsored or not. Of course, the fact that the information has been made public by the American-China Economic and Security Review Commission, coupled with the fact that the targets appear consistent with Chinese military plans in case of open war, looks like a little hint. The Eastern military strategy centers on disabling the enemy’s space systems along with the ground infrastructure through which the country is controlled as part of any assault.
According to further information, both Terra AM-1 and Landsat were controlled from the Svalbard Satellite Station located far in Norway. The station in question is known for frequent use of the Internet for transferring and gaining access to the files. The speculations are that the hackers could get into the Svalbard Satellite station’s system through its online connection. Thus far, no denials from China have hit the web.
A Chinese Hacked 48 Companies
It seems that the person in question has a lot of free time. Almost 50 chemical and defense organizations became victims of a coordinated hacker attack. The latter has been tracked and led to one person residing in China.
Worldwide-known insecurity outfit Symantec revealed that systems that belonged to the attacked companies have been infected with malicious software the insecurity experts called “PoisonIvy”. The software was designed to steal such data as formulas, design documents, and various other details on manufacturing processes.
As for the targets, a number of corporations listed in Fortune 100 suffered the attack. These companies develop compounds and advanced materials for chemical and defence industries. Symantec confirmed that majority of the victims of the malware were residing in Britain and America.Worldwide-known insecurity outfit Symantec revealed that systems that belonged to the attacked companies have been infected with malicious software the insecurity experts called “PoisonIvy”. The software was designed to steal such data as formulas, design documents, and various other details on manufacturing processes.
Although all of the attacks seemed to be totally for industrial espionage, there was an interesting fact in this campaign – it turned out that the attacks came from a computer system owned by a person in his 20s, who resides in Hebei province in northern China. This man had online pseudonym, which could be literally translated as “Covert Grove”. Meanwhile, Symantec has already found proof to the fact that the same “command and control” servers that had been used to control and mine information in this campaign had also been used to launch in attacks on different human-rights groups since this past spring.
At the moment, it’s impossible to say for sure if Covert Grove operates by oneself or he has been used as an intermediary and therefore plays only an indirect role. In addition, Symantec also couldn’t confirm that the individual in question is a hired gun working on behalf of another party – in particular, it may be the Communist Party. The insecurity outfit confirmed that the standard method of attack the individual used was to send emails having tainted attachments. The letters were sent out to several hundreds employees of a targeted company. The emails made their way into the system by pretending to be from established business partners or claiming that they contain bogus security updates. After the victims penned the attachments, those installed “PoisonIvy” malware, which turned out to be a Remote Access Trojan able to take control of a computer.
Source : extratorrent.com
China Called Social Media Harmful
The country’s ruling party is going to further clamp down on social media. The Chinese government is planning to eradicate inappropriate data from spreading across the Internet and promised to punish dissidents spouting anti-Totalitarian rhetoric. Unfortunately for the country, it can only do something to censor free speech, but it’s not up to them to change nature of the web.
Actually, this is exactly why the country has promised to come down on free speech activists and dissidents. The local media reported that social media services like Weibo can be too tough for the monitoring rooms to control. The country is going to use the full might of its numerous party members to quash what it calls “unfavorable discussions on the Internet”.
Industry observers believe that China is shooting itself in the foot. In fact, social media users, after being forced into keeping a quiet and uncontroversial line, the country’s almost 200 million microbloggers would simply become as boring as the current Twitter users in the United Kingdom, describing themselves as Social Media Lover, Dad, Coffee Enthusiast.
Meanwhile, the worries are about the danger that the largest players in the telecommunication space might also suffer. Such companies as Tencent and Sina Corp are the ones that largely rely on the Internet, which means that any intention to sanitize them to the tastes of the ruling elite will only have a negative effect for their stocks and shares.
The media reports confirm that the Chinese ruling party is also planning to crack down on "too entertaining" TV programs that are shown during primetime as well. Instead of the entertaining content, the channels are required to promote “fine literary and artistic materials”. It sounds like the Party wants to push for pro-Nationalist, traditional Chinese cultural programming, which is simply being dressed up as an attempt to restore a lost national identity.
The ruling party of China considers the westernization of the country very harmful. This may be the reason why reality and talent shows will only be permitted to run for one hour and a half during the prime time hours between 7.30 pm and 10 pm. Instead, they will have to show news and culture shows, which might be not such a bad idea!
Source : Extratorrent.com
Actually, this is exactly why the country has promised to come down on free speech activists and dissidents. The local media reported that social media services like Weibo can be too tough for the monitoring rooms to control. The country is going to use the full might of its numerous party members to quash what it calls “unfavorable discussions on the Internet”.
Industry observers believe that China is shooting itself in the foot. In fact, social media users, after being forced into keeping a quiet and uncontroversial line, the country’s almost 200 million microbloggers would simply become as boring as the current Twitter users in the United Kingdom, describing themselves as Social Media Lover, Dad, Coffee Enthusiast.
Meanwhile, the worries are about the danger that the largest players in the telecommunication space might also suffer. Such companies as Tencent and Sina Corp are the ones that largely rely on the Internet, which means that any intention to sanitize them to the tastes of the ruling elite will only have a negative effect for their stocks and shares.
The media reports confirm that the Chinese ruling party is also planning to crack down on "too entertaining" TV programs that are shown during primetime as well. Instead of the entertaining content, the channels are required to promote “fine literary and artistic materials”. It sounds like the Party wants to push for pro-Nationalist, traditional Chinese cultural programming, which is simply being dressed up as an attempt to restore a lost national identity.
The ruling party of China considers the westernization of the country very harmful. This may be the reason why reality and talent shows will only be permitted to run for one hour and a half during the prime time hours between 7.30 pm and 10 pm. Instead, they will have to show news and culture shows, which might be not such a bad idea!
Source : Extratorrent.com
Rabu, 02 November 2011
Komodo Melangkah ke Urutan Tiga Keajaiban Dunia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Posisi Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus melejit. Hanya dalam hitungan jam, posisi Pulau Komodo dari urutan lima meningkat ke posisi tiga dalam ajang New 7 Wonders (Tujuh Keajaiban Dunia).
"Saat ini, Pulau Komodo berada pada posisi tiga," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT, Abraham Klakik, yang dihubungi Tempo dari Jakarta, Rabu, 2 November 2011. Posisi Pulau Komodo ini berada dibawah Kadal Hijau atau kadal air dari Malaysia dan Gajah Putih dari Thailand.
Abraham menambahkan, Pulau Komodo berhasil menggeser Sungai Puerto Princize di Filipina, Hutan Amazon di Amerika Serikat, serta Gunung Kilimanjaro di Tanzania yang sebelumnya berada di atas Taman Nasional Komodo.
Pagi tadi Pulau Komodo dari Indonesia menempati urutan kelima dari 28 finalis setelah Hutan Amazon di Amerika Serikat, Gunung Kilimanjaro di Tanzania, dan Sungai Puerto Princize di Filipina.
Walaupun berada di posisi tiga, Abraham mengaku posisi Pulau Komodo belum aman, meski waktu untuk memberikan dukungan hanya tersisa 10 hari. Abraham menghimbau kepada masyarakat Indonesia, khususnya NTT, agar terus memberikan dukungan kepada komodo melalui vote ke 9818.
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh pemerintah pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/11/02/brk,20111102-364418,id.html
Dukung juga Komodo Dengan SMS :
KOMODO ke 9818 ( Tarif Rp 1 )
"Saat ini, Pulau Komodo berada pada posisi tiga," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT, Abraham Klakik, yang dihubungi Tempo dari Jakarta, Rabu, 2 November 2011. Posisi Pulau Komodo ini berada dibawah Kadal Hijau atau kadal air dari Malaysia dan Gajah Putih dari Thailand.
Abraham menambahkan, Pulau Komodo berhasil menggeser Sungai Puerto Princize di Filipina, Hutan Amazon di Amerika Serikat, serta Gunung Kilimanjaro di Tanzania yang sebelumnya berada di atas Taman Nasional Komodo.
Pagi tadi Pulau Komodo dari Indonesia menempati urutan kelima dari 28 finalis setelah Hutan Amazon di Amerika Serikat, Gunung Kilimanjaro di Tanzania, dan Sungai Puerto Princize di Filipina.
Walaupun berada di posisi tiga, Abraham mengaku posisi Pulau Komodo belum aman, meski waktu untuk memberikan dukungan hanya tersisa 10 hari. Abraham menghimbau kepada masyarakat Indonesia, khususnya NTT, agar terus memberikan dukungan kepada komodo melalui vote ke 9818.
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh pemerintah pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/11/02/brk,20111102-364418,id.html
Dukung juga Komodo Dengan SMS :
KOMODO ke 9818 ( Tarif Rp 1 )
Selasa, 01 November 2011
Kata Terakhir Steve Jobs ( Steve Job's Last Words )
![]() |
| Mona Simpson |
Dalam pidatonya yang diterbitkan Minggu kemarin di The New York Times, ia menyebutkan kalau 'Oh wow. Oh wow. Oh wow' sebagai kata-kata terakhir yang diucapkan mantan Chief Executive Officer Apple tersebut.
Simpson menceritakan pula ketika berusia 25 tahun, seorang pengacara memberi informasi kalau ia mempunyai saudara yang kaya dan terkenal. Sang saudara yang dimaksud pengacara itu ialah Jobs.
Novelis dan professor dan University of California itu pun teringat kakaknya yang sederhana dan pekerja keras. ''Ia mencintai pakaian yang sama dan memesan 10 hingga 100 model yang serupa, yaitu turtle neck katun berwarna hitam,'' tutur Simpson.
Situs time.com menyebut nama desainer ternama asal Jepang, Issey Miyake, sebagai salah seorang perancang pakaian model turtle neck kesukaan Jobs.
Menurutnya, Jobs juga mengatakan kalau fesyen bisa tampak indah sekarang. Akan tetapi terlihat jelek di kemudian hari. Sedangkan sebuah seni akan tetap indah dari awal sampai akhir.
Langganan:
Postingan (Atom)










